Temu Raya “Fast In Multicultural Integrity of Creation”

by / 0 Comments / 39 View / April 13, 2018

HALO. teman teman yang terkasih dalam Kristus. Berkah Dalem. Tidak terasa kita sudah menginjak bulan Februari di tahun 2018 ini. Beberapa waktu lalu Kokerma Kevikepan Semarang baru aja mengadakan acara nih, yaitu TEMU RAYA MAHASISWA KATOLIK SE-KOTA SEMARANG 2018. Acara ini dikemas dalam bentuk Live In pada tanggal 29 Januari – 03 Februari 2018. Teman semua pasti sudah pada tahu kan apa itu Live In.. bagi yang belum tahu nih, Live In adalah kegiatan tinggal bersama yang dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan masyarakat yang baru ditemui di wilayah yang baru.

Pada Temu Raya 2018 ini, KOKERMA mewujudkan Tema Fokus Pastoral Tahunan Dewan Karya Pastoral Tahun 2017 dengan melaksanakan kegiatan “live in” di Paroki Sumber Magelang dengan tema “FAST IN MULTICULTURAL INTEGRITY OF CREATION”. Kata FAST merupakan akronim dari kata pokok yang menjadi tujuan kegiatan ini, yaitu Faith yang berarti Iman, frAternity yang artinya persaudaraan, SolidariTy yang berarti kebersamaan. MULTICULTURAL INTEGRITY OF CREATION berarti menjaga keutuhan ciptaan di dalam keberagaman budaya.LINE_P20180413_14353790_1

Live In Temu Raya ini diadakan di Paroki Sumber, Magelang. Tepatnya di wilayah Lor Senowo. Di sana kami memiliki titik kumpul di gereja yang  berbentuk sangat unik, yaitu berbentuk gubug dan namanya pun Gubug Sela Merapi. Gereja yang terbuka dan dapat digunakan untuk kegiatan lain seperti pagelaran budaya dan kesenian lainnya. Sangat mencerminkan kehidupan gereja yang terbuka terhadap semua orang dan penuh sukacita.LINE_P20180413_14353786

Rombongan peserta berangkat dari Kantor Pelayanan Pastoral pada hari Senin, 29 Januari 2018 pukul 08.00 WIB. Perjalanan yang cukup panjang dan menyenangkan. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 12.00 WIB, dan langsung disambut oleh tim Edukasi GSPi (Gubug Sela Merapi) yang akan mendampingi kami untuk acara Live In ini. Setelah selesai acara penerimaan, pembagian rumah langsung disampaikan kemudian kami semua berangkat ke rumah masing-masing. Live In Temu Raya di Lor Senowo ini dibagi menjadi 3 lingkungan, yaitu Grogol, Sewukan, dan Kajangkoso. Keluarga angkat kami sangat ramah dan terbuka. Banyak bercerita membuat kami semakin nyaman untuk tinggal bersama dan banyak belajar dengan keluarga angkat ini. Hari pertama, kami diteguhkan dengan Misa Pembuka saat sore hari, bersama Romo Yudho dan Romo Tulus, romo dari paroki Sumber.

Pada hari kedua dan ketiga, 30 – 31 Januari 2018 kami mengikuti kegiatan dari masing-masing keluarga. Ada yang ke sawah untuk menanam, ada yang menyemai tanaman, ada juga yang sudah panen. Hasil pertanian di daerah Lor Senowo ini sangat beragam, mulai dari padi, cabai, ketimun, daun bawang, boncis dan lain sebagainya. Sungguh hijau dan asri suasana Desa Lor Senowo ini. Jauh dari polusi udara seperti kalau di kota Semarang. Pada siang hari, kami berkumpul di lingkungan masing-masing, untuk belajar membuat kerajinan tangan dari bahan baku bambu dan pelepah pisang yang sudah kering. Pada hari ketiga, kami belajar kesenian local bersama yaitu tari tradisional. Malam harinya, kami berkumpul untuk sharing dan berbagi cerita tentang pengalaman yang sudah didapatkan.

Hari keempat, 01 Februari 2018 mengikuti kegiatan keluarga dan siang harinya kami semua berkumpul di Gubug Sela Merapi untuk mengikuti talkshow. Talkshow kali ini membahas tentang sisi lain dari Desa Lor Senowo yang menyimpan keasrian, akan tetapi juga memiliki penambangan pasir yang tidak pernah berhenti untuk dieksploitasi. Semalam 24 jam ribuan truk pengangkut pasir lalu lalang mengambil harta terpendam yang ada di Sungai Senowo. Penambangan ini mengakibatkan jalan yang ada di desa sangat rusak dan aliran sungai berwarna coklat. Hal ini merupakan keprihatinan dari masyarakat sekitar. Akan tetapi masyarakat tidak tinggal diam, tetapi banyak mengambil tindakan untuk menanggulangi dan mencegah merembetnya penambangan pasir tersebut. Salah satunya yaitu dengan mempertahankan sungai yang masih asri seperti sungai Tlising. Talkshow berjalan dengan meriah dan penuh antusias dari peserta yang mengikuti acara.LINE_P20180413_14353782

Hari kelima, 02 Februari 2018 pagi kami mengikuti misa pagi di Gubug Sela Merapi. Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan dan persiapan untuk susur alam. Kegiatan susur alam diawali dengan tanam padi bersama, kami diajari cara menanam padi yang baik dan benar. Setelah itu, dilanjut dengan berjalan menyusuri alam, melewati sawah dan menyusuri sungai Tlising yang masih asri dan aliran sungai yang jernih dan cukup deras. Susur alam diakhiri dengan makan nasi berkat bersama. Kegiatan ini yang dimulai dengan menanam padi, menyusuri sungai dan makan nasi berkat bersama dimaknai dan direfleksikan sebagai perjalan hidup kita yang berawal dari lahit dan penuh dengan perjuangan, serta harus selalu dijalani dengan semangat dan pada akhirnya mensyukuri berkat apa yang telah kita terima dari apa yang telah kita tanam dan perjuangkan. Di malam harinya, kami mengadakan acara api unggun di halaman Gubug Sela Merapi, bernyanyi dan menari bersama penuh sukacita dalam kebersamaan.

Pada tanggal 03 Februari 2018 merupakan hari terakhir kami untuk live In ditempat ini. Sungguh waktu berlalu begitu cepat dan tidak terasa. Pagi hari kami semua pamitan kepada keluarga angkat dan kami berkumpul ke Gubug Sela Merapi untuk mengikuti Misa Syukur bersama Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Misa berlangsung sangat meriah dan penuh suka cita. Gereja sangat penuh dengan umat wilayah Lor Senowo ini. Setelah misa selesai dilanjutkan dengan pagelaran budaya. Pagelaran budaya ini dibuka dengan penampilan anak-anak local yang menari jaranan. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan teman teman dari masing-masing lingkungan, yaitu dari Grogol, Sewukan, dan Kajangkoso. Pagelaran budaya berlangsung meriah dan menyenangkan. Setelah pagelaran budaya selesai dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ditutup dengan makan siang. Kemudian kami berberes dan pulang kembali ke Semarang.LINE_P20180413_14353790

Sungguh pengalaman yang luar biasa dalam Live In ini. Banyak hal yang dapat kita ambil untuk kehidupan kita sehari-hari, seperti selalu bersyukur dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, menjaga alam dan melestarikan budaya. Semoga dengan ini membuat kita untuk semakin peka dan cinta alam yang lestari. Pengalaman yang tidak habis saat ingin diceritakan, semoga dengan tulisan ini membuat semua menjadi ikut bersukacita dan sadar akan alam yang perlu kita jaga. Salam Lestari!

Temu Raya 2018, LESTARI ALAMKU, LESTARI BUDAYAKU!

Comments

comments

Your Commment

Email (will not be published)